Surat Cinta untuk Ibu Bupati Kendal

Assalamu’alaykum Wr Wb

Dengan rasa hormat saya pada Ibu Bupati Kendal, bu Widya, orang nomor satu di Kabupaten saya tercinta. Perkenalkan bu, nama saya Milkhatussyafa’ah Taufiq. Kalo ibu susah mengejanya, panggil saja ‘Mila’ ūüėÄ . Umur saya sekarang 20 tahun. Sudah hampir 4 tahun ini saya merantau di kota Kembang, Bandung, kota penuh kreativitas, untuk menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi. Saya mengambil jurusan Teknik Informatika dan sekarang adalah tahun-tahun terakhir saya kuliah. Di tengah proses penyusunan skripsi, tiba-tiba saya terdorong untuk menulis sepucuk surat untuk Ibu. Saya sebut “Surat Cinta” karena motivasi saya membuat surat ini adalah karena saya sangat menyayangi Ibu dan sangat mencintai Kabupaten Kendal.

Melalui surat ini saya ingin mengungkapkan unek-unek saya yang mungkin mewakili warga Kendal juga. Saya gak akan bahas masalah jalanan rusak, berita PSK pahlawan keluarga, slogan Kendal Hebat, ataupun banjir. Terlalu banyak berita-berita tentang hal-hal tersebut. Mungkin Ibu bosan dan butuh solusi, bukan caci-maki. Saya kalo jadi Ibu juga bakal pusing mikirin caci-maki orang. Tapi ketika udah ada solus, trus dieksekusi, pasti ada sedikit cahaya penerang untuk Kendal ūüôā

Sebagai seorang wanita, amanah memimpin suatu daerah itu bisa menjadi sebuah beban berat. Dan hanya wanita-wanita tertentu saja yang bisa memikulnya. Saya salut dengan wanita pemberani seperti ibu. Ingin sekali saya bertemu langsung dengan Ibu. Awal saya melihat ibu di baliho dekat kantor bupati, saya kagum sama paras ibu, “Wah, Kendal punya Bupati yang mirip artis hehee” dalam hati saya. Tapi sayangnya di foto itu, ibu tidak memakai jilbab, padahal kan ibu sudah lama memakai jilbab kan bu? ūüė¶ maaf Bu..

bu widya

(Foto Bu Widya, Bupati Kendal 2010-2015)

Hanya 7 tahun saya menghuni Kabupaten Kendal. Sejak kelas 6 SD sampai kelas 3 SMA. Masih belum banyak yang saya ketahui tentang Kendal. Di tampat tinggal saya sendiri, daerah dukuh Tridi, Desa Dempelrejo, sayapun masih samar-samar mengenalnya. Ah, daerah itu… Selama saya tinggal di Kendal, saya rasa dukuh Tridilah yang bangunan rumah-rumahnya sebagian besar masih tradisional. Lebih dari 70% kira-kira rumah di sana masih menggunakan kayu, termasuk rumah saya. Kata orang tua saya, rumah saya itu dibangun ketika masih zaman Belanda, sampai sekarang masih berdiri kokoh. Hmm gak kokoh-kokoh amat sih, udah rada reot dikit di bagian dindingnya (eh malah curhat -_-). Tapi saya dan sebagian orang Kendal merasa bangunan-bangunan tradisional itu lebih baik daripada kumpulan tumpukan beton pembuat bangunan-bangunan tinggi yang bakal bikin Kendal yang tadinya panas jadi tambah panas. Kota Bandung adalah salah satu korban kekejaman tumpukan beton itu. Kota Bandung yang dulunya sejuk, dingin, sekarang kehilangan atmosfer hijaunya. Bandung sekarang kekurang ruang terbuka hijau di daerah kotanya. Kalau dulu Bandung dikenal sebagai ‘Bandung Lautan Api’, sekarang sudah berubah menjadi ‘Bandung Lautan Beton’. Sekarang beton-beton itu merambat ke bagian pegunungan. Memang bagus sih pembangunan industri, tapi jangan lupakan ruang-ruang hijau untuk penyimpanan energi.

kendal

Taman Garuda, Kabupaten Kendal

Kendal, yang sebagian besar tanahnya adalah untuk perkebunan dan sawah, saya sangat menyayangkan jika di kemudian hari pembangunan industri melupakan kehijauan Kendal. Pembangunan di Semarang, cepat atau lambat pasti akan merembet ke Kabupaten Kendal. Jadilah Kabupaten Kendal menjadi pilihan tempat tinggal orang-orang yang bekerja di Semarang layaknya Bekasi dan Jakarta. Kemudian warga Kendal meratap “Kembalikan Kendal kami yang duluu..”. Terlalu dramatis sih -_- maaf. Semoga hal tersebut tidak akan terjadi. Pemerintah Kendal bisa mensiasatinya dari sekarang. Mungkin dengan peraturan 60:40, maksudnya jika akan didirikan sebuah bangunan, 40% dari lahannya dialokasikan untuk membuat halaman atau taman yang ditanami berbagai pepohonan. Sedangkan 60%-nya untuk bangunan itu sendri. Walaupun sulit, tapi bisa terlaksana kan, Bu?

Kadang, saya suka membandingkan antara Kendal dengan Bandung. Saya sadar, terlalu jauh memang perbandingannya. Tapi di Bandung inilah saya terinspirasi bagaimana cara melonjakkan kenyamanan dan daya tarik sebuah daerah. Bandung, siapa sih yang gak tau kota ini? Beribu atau bahkan berjuta jiwa rakyat Indonesia (terutama daerah Jabodetabek) yang menginginkan tempat tinggal dengan lingkungan se-asri dan se-glamor Kota Bandung? Sedangkan Kendal?

“Kendal itu jawa sebelah mana?” “Ada gak di peta?” ” Semarang coret ya?”

Itu reaksi sebagian besar teman-teman saya ketika saya mulai mengenalkan Kendal. Sedih -_-. It’s okay. Ini Kendal sekarang. Kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Who knows Kendal bisa jadi lebih terkenal daripada Bandung, bahkan Jakarta ūüėÄ

Bandung itu kota penuh kreativitas, surganya para seniman. Hampir mirip dengan Jogja. Kalo Jogja masih dibalut kekhasan jawanya yang kental. Nah kalo Bandung ini, mungkin karena banyak dihuni oleh pendatang dari seluruh Indonesia dan warga negara lain, jadilah kreativitasnya lebih general dan lebih beragam. Oya, saya sangat kagum sama walikotanya yang sekarang. Namanya Pak Ridwan Kamil. Dengan background keilmuan arsitek dan masih tergolong muda ini, beliau sosok yang sangat cocok memimpin Kota Kembang ini. Berbagai programnya sangat menggairahkan. Seperti slogan hari-hari di Bandung, Bus Sekolah untuk siswa Bandung, Mesin Parkir Gratis, Bandung Culinary Night, Taman Jomblo, Taman Musik, dan masih banyak lagi. Semua itu semakin mengundang pengunjung dari luar Bandung dan luar Indonesia. Selain iti, tidak ketinggalan sisi religius di Kota Kembang ini kalo boleh saya bilang paling TOP di Indonesia. Untuk yang muslim, sering ada pengajian-pengajian akbar, biasanya di Daarut Tauhid dekat rumahnya Aa Gym, atau di Pusdai.

ridwan kamil

(Foto Ridwan Kamil, Walikota Bandung 2013-2018)

Maaf ya bu, saya terlalu banyak bercerita tentang Bandung -_-. Seperti yang saya tulis sebelumnya, Bandung menginspirasi saya bagaimana cara melonjakkan kenyamanan dan daya tarik sebuah daerah. Setiap daerah pasti memiliki bakat yang bisa dikembangkan, tergantung masyarakatnya, dikembangkan ke arah kebaikan atau dikembangkan untuk disalahgunakan. Seperti halnya manusia, tiap manusia memiliki bakat yang bisa dikembangkan ke arah kebaikan. Kita mulai dari segi ekonomi bisnis. Kendal memiliki pegunungan yang sejuk. Sukorejo. Banyak yang belum mengenalnya. Jika di sana dibuat sebuah kebun-kebun kreatif di sebelah Curug Sewu. Misal kebun buah serba ada. Bisa sedikit menarik pandangan publik untuk mencoba mengunjungi daerah tersebut. Selain itu, dari segi ekonomipun warga sekitar jadi terbantu. Untuk di dataran rendah, bisa diinisiasikan kegiatan ekonomi kreatif, kampung kreatif, atau sebagainya. Di dataran rendah, kondisi tanah di Kendal itu tergolong bagus, sawah-sawahnya menghasilkan padi dengan subur dan lebih baik dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Sangat bagus jika dimanfaatkan dan dijual dengan cara yang lebih menarik. Di kampung-kampung, warga bisa dibekali ilmu membuat karya khas Kendal. Bisa berupa kerajinan, makanan, dan bisa juga tempat pariwisata. Nah, dari situ bisa tercipta kampung-kampung kuliner, kampung pariwisata, atau kampung kerajinan khas Kendal. Produknya apa saja? ya tergantung warganya. Selain menjadi tempat yang menarik, kampung-kampung tersebut juga mengisi pemasokan ekonomi Kendal, dan yang paling penting, warga jadi lebih kreatif untuk menyambung hidup. Tidak lagi lari manjadi TKW atau TKI, atau minta-minta ke pemerintah untuk dibantu. Beda halnya jika pemerintah hanya memberi bantuan berupa uang atau sembako saja. Jika tidak digunakan sebagai modal, uang dan sembako tadi akan habis, kemudaian warga akan minta lagi ke pemerintah, seperti itu terus gak berhenti-berhenti.

Itu dari segi ekonomi bisnis, Nah pendidikan nih, menurut saya aspek ini merupakan dasar dari segala aspek. Jika pendidikan gak mbener, moral masyarakat jadi semrawut, ekonomi ngejungkel, politik apalagi, jadi tambah njelimet. Naudzubillah… Selain harus mendapat dana APBD paling besar, juga untuk bantuan-bantuan siswa-siswa kuran mampu, yang lebih penting adalah para ‘pelaku’ pendidikannya. Guru, Siswa, Orang Tua. Merekalah aktor-aktor penting pembentuk pendidikan ideal. Kebanyakan sistem pendidikan di Indonesia, ‘aktor-aktor’nya hanya menjalankan tugasnya saja, tanpa memikirkan tujuan utama pendidikan itu sendiri. Dan sedihnya, secara kasat mata, di Kendal saya menemukan yang terburuk. Guru seharusnya tidak hanya menerangkan pelajaran saja, hanya berbicara di depan kelas, tapi juga menjadi teladan, memahami siswa untuk membantunya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, dan memberikan pelajaran terpenting, yaitu pelajaran hidup. Memang harusnya seorang guru, bisa memberikan motivasi, mengajarkan siswa untuk berani bermimpi dan menggapainya, juga memberi inspirasi. Dengan begitu, siswa mencontoh gurunya. Siswapun akan baik jika gurunya baik. Aktor lain, orang tua. Jaman sekarang, orang tua mengukur kualitas pendidikan anaknya hanya dari nilai pelajaran saja. Padahal prioritas pertama adalah pembentukan kepribadian. Mental yang kuat, cerdas, imajinasi tinggi, jago bersosialisasi lebih baik daripada hanya sekedar nilai pelajaran saja, tapi nilai juga penting.

Terakhir, dari segi politik. Kendal kini sedang krisis kepemimpinan bu. Gak cuma sekarang, tapi mungkin sudah cukup lama. Sejak pemimpin-pemimpin Kendal yang terdahulu sering melakukan korupsi yang merugikan rakyat. Sebagian besar warga kecewa dengan kinerja pemerintah Kendal. Mereka menilai pemerintah tidak melakukan apa-apa, hanya makan gaji buta, Korupsi. Pemilu 2014 ini, banyak yang merencanakan golput karena kecewa dengan kinerja pemerintah dari dulu hingga sekarang gak ada yang mbener. Sangat disayangkan. Yah, jangankan korupsi saat menjalankan pemerintahan, ketika nyalon aja banyak yang main curang. Ngasih uang biar menang. Menggunakan Ketua RT, Ketua RW, Lurah, Ketua Organisasi agar menggiring warga, memaksa untuk memilih partai tertentu. Terlalu jauh di pemilu legislatif atau presiden, dalam pemilihan lurah saja sudah ada budaya penggiringan masa. Di daerah saya, beberapa bulan yang lalu ada pemilihan lurah, dan ada uang yang dibagikan dari calon-calonnya. Sudah rahasia umum ūüė¶ . Hak warga disalahgunakan dengan sengaja. Warga bukannya mengamati track record calon dan menganalisisnya, justru malah tergiur dengan hal-hal yang bersifat jangka pendek. Gak usah ngomong tentang janji palsu dulu, partai-partai yang kinerjanya hanya terlihat ketika menjelang pemilu saja, janji mereka pasti palsu. Makin susah cari partai yang paling sedikit mudharatnya ūüė¶ .

Pemimpin adalah tokoh. Tokoh adalah pendidik. Maka Pemimpin adalah pendidik. Tadi saya menuliskan tentang guru, tenaga pendidik yang sangat berperan dalam pembentukan moral dan kepribadian. Pantes aja guru-guru tidak memberikan teladan, lha wong pemimpin daerahnya saja gak jadi teladan juga. Kalo dibilang kecewa, benar saya kecewa bu sama perpolitikan di Kendal sekarang. Tapi kekecewaan saya ini gak akan jadi penghenti ikhtiar. Saya yakin, Kendal suatu saat pasti maju. Makanya, jauh-jauh di Bandung saya bela-belain ngurus perpindahan pencoblosan, biar bisa tetep nyoblos walaupun di perantauan. Saya gak rela kalau nantinya para ‘tikus’ yang menjadi wakil Kendal di gedung hijau itu. Saya juga gak rela kalo nantinya presiden saya adalah pembela kaum liberal, membatasi umat muslim beribadah. Indonesia ini kan negara dengan prosentase warga muslim terbanyak se-dunia. Di mana-mana gampang cari makanan halal, gampang cari tempat ibadah. Saya gak mau kebebasan ibadah umat Islam itu dibatasi, mau ke negara mana saya pergi kalo Indonesia gak nyaman lagi untuk orang muslim? Saya gak punya cukup uang untuk pindah negara -_- (mulai dramatis lagi).

Krisis kepemimpinan yang kedua adalah, para tokoh-tokoh politik sekarang hanya mementingkan bagaimana cara agar dia terlihat baik di hadapan publik, bukannya bagaimana cara agar daerah yang ia pimpin jadi lebih baik. Sedihnya lagi, masyarakat juga lebih percaya dengan tokoh-tokoh politik yang ‘bertingkah baik’ kalo ada media saja. Sedangkan tokoh-tokoh politik yang ikhlas membangun untuk rakyat walau tanpa diberitakan media, kehilangan pendukungnya, padahal ikhlas lho Bu… Tokoh-tokoh politik yang tidak fokus pada solusi praktis, tapi fokus pada yang lebih penting, yaitu solusi-solusi intelek progresif juga kehilangan pendukung di kalangan menengah ke bawah.

Dari sekian panjang tulisan saya ini, mungkin ada yang kurang sesuai dengan kondisi internal pemerintah Kendal sekarang. Orang pintar seperti ibu, yang berhasil memegang pinjaman kepercayaan ribuan warga Kendal pasti bisa mengatasi problematika-problematika yang ada di Kendal. Saya, akankah setelah lulus kuliah nanti kembali ke Kendal untuk mengabdi? Ah, itu hanya sepintas pemikiran saja, Bu. Sekarang, hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membuat Kendal ‘sadar’. Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung perorangan, atau kelompok manapun. Jika Ibu Widya membaca tulisan ini, semoga Ibu senang. Dan saya akan sangat senang jika Ibu mengeksekusi usulan-usulan yang telah saya tuliskan ini. Mungkin tulisan ini tidak hanya berlaku untuk daerah Kabupaten Kendal saja, tapi juga daerah-daerah yang senasib dengan Kabupaten Kendal. Sepertinya banyak daerah-daerah di Indonesia yang seperti Kendal ini.

Terimakasih atas waktunya Ibu dan pembaca untuk membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaykum Wr Wb.

kendal

Kabupaten Kendal

Bandung, 4-4-14
Dini hari pukul 04.00 AM

Milkhatussyafa’ah Taufiq

Advertisements

Introvert itu Cool!

Meminjam judul salah satu bab di buku Kreatif Sampai Mati-nya mas @waditya, “Introvert itu Cool”. Saya ingin sedikit membahas tentang para¬†introvert¬†(dan¬†ekstrovert).

Dunia sebenarnya membutuhkan manusia introvert yang juga dapat berkarya semaksimal manusia ekstrovert.

Kita harus memahami bahwa introvert bukan tentang masalah bahwa ia tidak bisa bersosialisasi. Bukan berarti seorang introvert selalu memiliki sifat pemalu. Ini hanya permasalahan tentang bangaimana seseorang merespons sebuah rangsangan atau stimulasi.

(Kreatif Sampai Mati hal 168)

Memang tidak bisa seseorang hanya memiliki satu sifat murni introvert saja atau murni ekstrovert saja. Keduanya saling mengisi, walau pasti ada salah satu sisi yang dominan. Individu introvert lebih suka menyendiri, tidak pandai mengungkapkan pikiran dan perasaan, berbicara hanya yang penting-penting saja dan sangat menghargai privasi.

Kenyataannya, para introvert dinilai orang-orang kalah saing dengan para ekstrovert. Ekstrovert seperti berlian, sedangkan  introvert?  Padahal banyak tokoh-tokoh dunia yang memiliki karya terkenal, merupakan seorang introvert.

Bukan berarti seorang yang pemalu, penyendiri, pendiam tidak bisa menciptakan karya hebat. Masalahnya adalah tentang bagaimana cara ‘memoles’-nya. Seperti kata pepatah,¬†air tenang menghanyutkan.¬†Senyap tapi progresif. Power mereka tidak kalah dengan para¬†ekstrovert.¬†Jika¬†ekstrovert¬†adalah berlian, maka¬†introvert¬†adalah mutiara dalam kerang. Cara untuk membuat mereka berkilau berbeda. Penampakannya¬†dari luarpun berbeda.

Kita harus memberikan kebebasan bagi seorang introvert. Kebebasan dalam mencari solusi dan kreativitas dengan caranya sendiri. Introvert dan ekstrovert sama-sama harus disejajarkan dalam panggung yang sama. Sama-sama harus diberikan tepuk tangan yang meriah.

(Kreatif Sampai Mati hal 172)

Sendiri adalah seni. Sebuah karunia untuk menemukan kreativitas. Introvert dan ekstrovert. harus diseimbangkan. Tawazun! Berada di tengah-tengah antara keduanya.

Image

sumber : imgfave.com

 

Pemilu 2014. Yuk Nyoblos!

ImageImageImage 

Sekarang, Indonesia sudah memiliki¬†banyak kaum¬†intelek, tahu mana yang merugikan negara mana yang menguntungkan negara. Namun sayangnya kurangnya kesadaran untuk merubah Indonesia masih minim. Walaupun kurang dari 0,001% suara masing-masing orang,¬†tapi jika jumlah golput banyak, maka pengaruhnya akan sangat besar. Kecewa dengan partai-partai yang ada itu wajar. Semua partai tidak ada yang sempurna, karena pembuat partai pun tidak sempurna. namun sistem inilah sekarang yang kita hadapi. Lalu apakah kita diam saja membiarkan oknum-oknum bayaran menggunakan hak suaranya hanya untuk kepentingan pribadi saja. Apakah kita hanya¬†membiarkan ‘tikus’ yang memimpin. Lalu kemudian kita hanya bisa protes ketika mereka terpilih.

Cermati orangnya, lihat track record partainya. Pilih yang paling sedikit mudharatnya. 

http://kreavi.com/project/18663/-YukNyoblos

Menggeneralisir

Kata Wikipedia, Generalisasi adalah¬†proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum. Artinya, ketika kita melihat suatu objek A dan mendapatkan beberapa ciri atau¬†behavior-nya, kemudian kita lihat ojek B dan menemukan beberapa ciri atau¬†behavior¬†yang sama dengan objek A, kemudian kita menganggap kedua objek A dan B adalah sama maka itu termasuk dalam percobaan ‘meng-Generalisir’ objek A terhadap objek B. Gampangnya, jika dituliskan dalam persamaan jika A bagian dari C dan B bagian dari C, maka A adalah B. Padahal nggak¬†gitu juga.¬†Jika kegiatan menggeneralisir ini tidak memiliki bukti kuat, maka hasilnya bisa salah. becak memiliki roda tiga, tidak bisa kita sebutkan semua yang beroda tiga adalah becak,¬†kan¬†pesawat juga mempunyai roda tiga. Apakah sama antara becak dan pesawat?

Namun, kegiatan menggeneralisir ini penting jika digunakan dalam pengambilan hipotesa suatu penelitian yang dilanjutkan dengan pengambilan fakta-fakta riil. Jika hanya dalam sudut pandang segelintir manusia saja, dan tidak bisa menunjukkan buktinya, maka hasil dari kegiatan menggeneralisir ini tidak bisa dipercaya. Dua orang saudara kembar saja masih memiliki perbedaan, apalagi segerombol manusia. Kita tidak bisa menganggap sama semua orang berdasarkan style-nya, atau berdasarkan background keluarganya, atau berdasarkan tempat tinggalnya, atau berdasarkan aktivitas komunitas atau organisasinya. Bukankah manusia diciptakan unik.