It is “Sorry”

Pernah merasa semuanya seperti berantakan? niat kamu ingin memancing sebuah objek membuat lingkungannya menjadi baik tapi justru malah objeknya sendiri yang merasa kecewa dan imbasnya bukan hanya pada dirimu, tapi juga pada orang-orang di belakangmu. Penyebabnya hanya satu, sifat mendasar yang susah dirubah.

Bukan, yang salah bukan bagaimana cara penyampaian mereka, bukan bagaimana penangkapan mereka, karena mereka ibarat gelas yang masih kosong yang bisa dimasukkan apapun ke dalamnya. Air bersih atau air kotor. Bukan pula perantaranya.

Jelas Dia sudah menegur dan aku tidak mendengarkannya sehingga aku harus ‘diteriaki’. Terlalu sibuk aku mementingkan diri sendiri. Lalai. Sampai kapan menunggu untuk berubah?

Jika pantas-pantasan, aku sama sekali tidak pantas. Kalau cari aman, bisa saja pergi. Tapi tidak. Aku sudah berjanji. Senang, susah, memang seperti ini. Gak bisa semaunya.

Andai pemahaman itu tidak mengenal salah persepsi. Andai komunikasi itu tidak mengenal ‘abu-abu’. Tapi inilah yang nyata. Gak bisa berandai-andai.

Ahh, intinya mah, maaf.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s