Mbak Risa

Gak terasa sudah sekitar dua tahunan sepeninggalan Mbak Risa. Semoga dia bahagia di sana. Dulu ketika Mbak Risa masih hidup, setiap saya ditelpon sama orang tua, pasti bahas keadaannya. Seorang perempuan yang dalam keadaan semakin memburukpun masih tetap bersemangat memberi manfaat ke orang lain. Tahun kelahirannya gak jauh beda sama saya, cuma selisih tiga tahun. Mbak Risa meninggal karena digerogoti kanker paru-paru yang membuat tubuhnya jadi kurus gak berdaging dan sering batuk-batuk keras.

Sebenarnya keluarga saya dan keluarga Mbak Risa gak punya hubungan darah. Mbak Risa berasal dari kalimantan yang kemudian merantau kuliah di Yogyakarta. Aktivitasnya gak cuma kuliah, dia juga mencoba meringankan beban orang tuanya dan mencari pengalaman dengan menjadi penyiar radio walaupun orang tuanya tergolong kaya. Sifatnya ceria dan mudah berteman dengan siapapun. Di usia yang masih muda Mbak Risa divonis memiliki kanker. Tubuhnya semakin hari semakin kurus. Tapi kepalanya membesar. Banyak rumah sakit yang sudah didatanginya bersama keluarganya yang langsung datang dari kalimantan. Orang tuanya adalah seorang pebisnis. Membayar mahal untuk kesembuhan anaknya bukan masalah yang sangat besar. Apalagi Mbak Risa ini anak satu-satunya. Putus asa dengan cara medis yang gak menunjukkan progres baik, sampe akhirnya orang tuanya memutuskan Mbak Risa untuk mencoba pengobatan tradisional. Kebetulan di daerah saya ada pengobatan tradisional itu. Dan kebetulan lagi orang tua Mbak Risa ketemu ibu saya dan meminta bantuan untuk tempat tinggal Mbak Risa selama dalam pengobatan. Ibu sayapun yang prihatin melihat keadaan Mbak Risa akhirnya menerimanya. Inilah awal keluarga saya mengenal Mbak Risa dan keluarganya. Karena orang tuanya yang sibuk, cuma ibunya Mbak Risa aja yang merawatnya di Kendal. Mulai saat itu setiap ditelpon, topik bahasan saya dan ibu saya pasti tentang Mbak Risa. Tentang keadaannya yang semakin memburuk. Tentang pengobatan tradisional yang sedang dijalaninya. Kakinya menjadi gak bisa buat jalan lagi. Badannya susah digerakkan lagi. Dan lewat telpon itu juga saya diperkenalkan sama Mbak Risa (dan sama ibunya juga).”Wah, ini Mila yaa, doain ya, semoga keadaan Mbak makin membaik“. Itu kalimat pertamanya dalam percakapan kami di telepon. Beberapa lama setelah itu Mbak Risa pindah tempat tinggal, pindah ke tempat yang lebih dekat dengan tempat praktik pengobatan tradisionalnya, tapi masih di Kendal juga. Selama pengobatan, Mbak Risa lebih menghabiskan uang buat beli sembako dan barang-barang lain untuk disumbangkan ke panti asuhan. Juga untuk perbaikan masjid-masjid. Orang tua saya sering membantu mengantarkan sumbangan itu.

Dan waktu liburan semesterpun tiba. Saya pulang. Sampai rumah, saya diajak ke tempat tinggalnya Mbak Risa dan mengantar sembako ke panti asuhan. Ketika melihat langsung keadaan Mbak Risa, rasanya duhh gak tega banget. Dia cuma bisa berbaring di kasur. Badannya kurus kering. Batuknya keras kayak ada sesuatu yang mau dikeluarin dari mulut tapi gak keluar keluar. Tangannya dingin. Tapi dia masih bisa senyum. Wajahnya berusaha gak menunjukkan kesakitan. Beruntung banget kita yang masih dikasih kesehatan. Masih bisa jalan. Masih bisa bicara. “Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 13) Ingat lagi surat ini.

Ibu Mbak Risa memperlihatkan foto Mbak Risa ketika masih sehat dulu. Cantik, putih, tinggi, langsing. Kayaknya dulu banyak yang naksir sama Mbak Risa. Gak kebayang rasanya ketika divonis memiliki penyakit mematikan itu. Cita-citanya, masa depannya, ambisinya, semuanya buyar. Dan saya sempet mikir, kenapa uangnya gak buat pergi ke luar negeri aja buat cari pengobatan medis di Singapura misalnya, yang pengobatannya lebih maju daripada di Indonesia. Mbak Risa justru setuju dibawa orang tuanya ke pengobatan tradisional di daerah kecil. Uangnya juga dihamburkan untuk memberi sumbangan-sumbangan ke anak yatim piatu. Mbak Risa sendiri yang ingin sebagian besar uangnya dipergunakan untuk panti asuhan saja. Bukan disuruh orang tuanya.

Hingga tiba suatu siang, ketika saya masih di Kendal, ayah saya pergi melihat keadaan Mbak Risa. Dan saat itu juga tiba-tiba Mbak Risa minta dibelikan kasur baru tapi Mbak Risa memaksa ingin ikut membelinya. Di tengah perjalanan, di dalam mobil, tiba-tiba keadaan Mbak Risa semakin parah lagi, dan kemudian gak sadarkan diri. Ayah saya membawanya ke rumah sakit terdekat. Tapi ternyata nyawanya sudah gak bisa diselamatkan lagi. Mbak Risa telah meninggal.

Pertemuan pertama dan terakhir saya sama Mbak Risa, momen yang sangat berkesan. Mbak Risa. Ingat dia jadi ingat lagi bahwa sesuatu yang telah kita miliki wajib disyukuri. Jangan nunggu sampai kenikmatan itu diambil dan kita menyesal. Inget terus Mil surat Ar-Rahman yang udah pernah diapalin tapi lupa lagi –“.

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari sepenggal cerita hidup Mbak Risa 🙂

Life is what you can make of it. Treasure it

Advertisements

Karakter

Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Al-Isra’ : 84)

Atas dasar itulah kita memang seharusnya menjadi diri sendiri. Tidak menutup-nutupi apa yang seharusnya menjadi karakter pribadi kita. Pendidikan karakter setiap manusia berbeda-beda dimulai sejak ia lahir, bahkan sejak masih di dalam kandungan. Faktor lingkungan, pendidikan, budaya, hingga fisik berperan penting dalam pembentukan karakter sehingga tercipta manusia yang beragam. Ada yang pendiam ada juga yang cerewet, ada yang introvert ada juga yang ekstrovert, ada yang  lembut ada juga yang pecicilan (saya gak tau ini bahasa indonesianya apa :v). Segala bentuk kebaikan bisa disesuaikan dengan karakter masing-masing orang kan? Mudah, kita bisa meng-cloning figur-figur baik yang memiliki kemiripan karakter dengan kita.

Tapi kita tidak boleh lupa bahwa siapa yang lebih benar hanya diketahui oleh-Nya. Yang telah memberitahu kalau Nabi Muhammad adalah figur satu-satunya yang harus ditiru. Yang sejarahnya telah diabadikan dalam kitab.

It is “Sorry”

Pernah merasa semuanya seperti berantakan? niat kamu ingin memancing sebuah objek membuat lingkungannya menjadi baik tapi justru malah objeknya sendiri yang merasa kecewa dan imbasnya bukan hanya pada dirimu, tapi juga pada orang-orang di belakangmu. Penyebabnya hanya satu, sifat mendasar yang susah dirubah.

Bukan, yang salah bukan bagaimana cara penyampaian mereka, bukan bagaimana penangkapan mereka, karena mereka ibarat gelas yang masih kosong yang bisa dimasukkan apapun ke dalamnya. Air bersih atau air kotor. Bukan pula perantaranya.

Jelas Dia sudah menegur dan aku tidak mendengarkannya sehingga aku harus ‘diteriaki’. Terlalu sibuk aku mementingkan diri sendiri. Lalai. Sampai kapan menunggu untuk berubah?

Jika pantas-pantasan, aku sama sekali tidak pantas. Kalau cari aman, bisa saja pergi. Tapi tidak. Aku sudah berjanji. Senang, susah, memang seperti ini. Gak bisa semaunya.

Andai pemahaman itu tidak mengenal salah persepsi. Andai komunikasi itu tidak mengenal ‘abu-abu’. Tapi inilah yang nyata. Gak bisa berandai-andai.

Ahh, intinya mah, maaf.

 

 

Resensi Novel “Negeri Para Bedebah” dan “Negeri di Ujung Tanduk”

Sebenarnya buku Negeri Para Bedebah sudah mejeng di rak buku saya sejak beberapa bulan yang lalu. Saya beli di Islamic Book Fair dengan harga rada miring. Beli buku itupun karena dapet rekomendasi dari temen, katanya bukunya bagus banget. Dulu pernah sempet baca cuma sampai sekitar 20 halaman pertama aja, setelah itu saya tinggalin haha 😛 Beberapa hari yang lalu entah kenapa saya haus novel, cap-cip-cup di rak buku dan ternyata buku itu yang beruntung. Dua puluh halaman yang pernah saya baca dulu saya ulang baca lagi karena lupa ceritanya. Memang di awal cerita masih agak membosankan. Mungkin itu alasan kenapa saya gak tertarik nerusin baca sampe selesai ketika baru beli buku itu. Tapi ketika sudah muncul ke inti permasalahan, rasanya bener-bener menegangkan. Kita diajak untuk berfikir, penasaran, dan membayangkan serunya petualangan si pemeran utama.

Image

Namanya Thomas, tokoh utama dalam novel Negeri Para Bedebah ini. Ia merupakan seorang konsultan keuangan yang sukses. Umurnya 33 tahun tapi dia sudah sering menjadi pembicara dalam acara-acara bergengsi di dalam maupun luar negeri dengan pesertanya adalah pimpinan-pimpinan perusahaan. Ia sendiri memiliki perusahaan konsultan yang ternama. Ia pandai memotivasi dan memberi masukan yang jitu untuk para klien bisnisnya. Dalam cerita, Thomas memiliki karakter cerdik, gesit, cerdas, fisik kuat, humoris, tampan, tapi dia masih jomblo (saking sibuknya jadi konsultan gak sempet cari pendamping apa yaa? umurnya udah 33 padahal hahaha :D).  Kesibukannya bahkan melebihi kesibukan presiden. Dalam novel ini kalian akan tercengang bagaimana media bisa disetir oleh Thomas, orang-orang petinggi negeri ini bisa percaya dengan Thomas. Yah, cukup di novel saja Thomas ini ada. 🙂

Dibalik gemilangnya karir Thomas, ternyata ia memiliki masa lalu yang menyedihkan. Papa-Mamanya meninggal dalam kebakaran rumah ketika ia sedang mengantar susu untuk tetangga-tetangganya. Rumahnya dibakar oleh warga yang merasa dikhianati oleh usaha Arisan-Berantai yang didirikan Papanya dan Om Liem, pamannya. Apakah hanya karena itu? 🙂

Setelah lulus sekolah, ia mengambil kuliah bisnis di luar negeri kemudian mendirikan kantor konsultan keuangan di Jakarta. Ketika di asrama, ia beberapa kali dikunjungi oleh Opa dan Tante Liem yang selamat dalam kebakaran rumahnya. Kemudian ia dekat dengan Opanya dan Tante Liem. Ia beberapa kali mengunjungi rumah peristirahatan Opa di Jatiluhur, juga menemui Tante Liem. Tapi Thomas tidak pernah menyukai Om Liem sejak kejadian kebakaran tadi. Karena ia merasa Om Liem lah yang menjadi penyebab Papa-Mamanya meninggal. Makanya, Thomas tidak pernah mau bertemu dengan Omnya tersebut.

Petualangan Thomas dimulai ketika Bank milik Om Liem hampir kolaps. Bank Semesta adalah salah satu kekayaan Om Liem. Cerita kolapsnya Bank Semesta ini mengingatkan saya sama salah satu Bank di Indonesia yang hampir kolaps juga, dan sampai sekarangpun belum selesai permasalahannya (you know what i mean 😛 ). Walaupun Thomas tidak menyukai Om Liem, ia tetap peduli dengannya, sejahat apapun Om Liem dia tetap keluarganya, dan Om Liem-pun sudah berjanji untuk berubah.  Thomas–yang baru pulang dari klub petarung atau klub petinju mengalahkan orang terkuat di klub tersebut, Rudi—didatangi orang kepercayaan Om Liem, Ram. Ram menceritakan keadaan Bank Semesta dan mengajaknya ke tempat kejadian.

Kau tahu berapa lama setting waktu dalam novel ini? Hanya DUA HARI. Ya, hanya dua hari. Kejadian kolapsnya Bank Semesta pada hari Jumat malam, dan Thomas hanya memiliki kesempatan 2 hari sebelum hari Senin pukul 8.00 ketika semua Bank buka. Dalam dua hari itu, Thomas bersusah payah mempertahankan Bank Semesta agar diselamatkan oleh pemerintah. Ia membawa kabur Om Liem, mengelabui para polisi, menyimpan Om Liem di tempat tersembunyi, kemudian mendatangi orang-orang berpengaruh yang akan menentukan Bank Semesta akan diselamatkan atau tidak. Gak main-main, dengan dikejar-kejar polisi di mana-mana, Thomas dengan cerdiknya bisa mendatangi orang-orang tersebut. Ibu Menteri, Putra Mahkota, petinggi lembaga keuangan, dan juga media berhasil ia pengaruhi. Ohya, dalam pertempurannya itu, ia ditemani seorang wartawan muda bernama Julia. Julia ini ikut terseret dalam kasus Bank Semesta awalnya karena ia tidak menyukai Thomas yang bisa dengan mudah mengelabui media. Lalu bagaimana bisa Julia menemani Thomas? 🙂

Dengan beberapa intrik dan rekayasa cerdik yang dilakukan Thomas, mengelabui polisi-polisi, ia dan Julia menyelesaikan misi dengan baik. Bank Semesata diselamatkan oleh pemerintah. Tentu saja dalam petarungan ini, Thomas dibantu teman-teman dekatnya. Maggie, Erik, Rudi, Julia, Kadek, Randy. Mereka adalah tokoh-tokoh pembantu dalam novel ini. Secara kebetulan, temen-temannya di klub petarung yang rahasia itu manjadi penyelamat Thomas. Tapi di akhir cerita, kalian akan dikejutkan dengan sebuah penghianatan orang terpercaya.

Image

Pada Novel kedua, Negeri di Ujung Tanduk, sensasi tegang dan penasaran yang saya rasakan masih sama seperti ketika membaca novel pertama. Setelah selesai baca negeri para Bedebah, kebetulan ada Islamic Book Fair lagi di Braga. Gak lama, novel keduanya sudah ada di tangan saya. Karena penasaran, langsung saya baca. Cukup dua hari untuk menyelesaikannya. 😀

Pada novel kedua ini, setting waktunya juga cepat. Hanya tiga hari. Pada novel ini tidak lagi menceritakan tentang Bank Semesta, tapi tentang pencalonan presiden salah satu partai. Satu tahun setelah pertarungan menyelamatkan Bank Semesta, Thomas yang kini berumur 34 tahun, telah mendirikan unit baru di kantornya yaitu unit untuk jasa konsultasi politik. Perusahaannya itu telah berhasil memenangkan dua gubernur dalam satu tahun terakhir. Kini ia memiliki klien calon presiden yang telah sukses menjadi walikota sebuah daerah dan sukses menjadi gubernur Jakarta, kliennya itu berinisial JD (you know what i mean? Haha.) Lagi-lagi Tere Liye mengangkat isu yang sedang dekat dengan kita yaa 😀 Agak sedikit kecewa sih karena di dalam cerita, kliennya itu telah sukses menjadi gubernur ibukota selama lima tahun, dan ia memutuskan untuk tidak memperpanjang masa jabatannya sebagai gubernur lima tahun selanjutnya karena ia berencana mencalonkan diri menjadi presiden dari partai terbesar di negeri ini. Satu tahun klien Thomas itu lengser dari gubernur dan mempersiapkan pencalonan presiden. Dalam cerita, JD ini memiliki tabiat yang bersih, ia akan membersihkan hukum dari kecurangan-kecurangan, dan Thomas mempercayainya. Mungkin ini sindiran kali yaa haha. Yap, okelah, mulai pada cerita ini saya memutuskan untuk mengalah, melanjutkan isi cerita hingga akhir.

Dalam pemilihan tokoh yang akan dinaikkan menjadi calon presiden dalam partai terbesar di negeri ini, JD mengalami banyak hambatan yang ikut menyeret Thomas, konsultan politiknya, juga Om Liem. Ada ‘mafia hukum’ yang terdiri dari 5 tingkatan, masing-masing tingkatan terdapat beberapa nama. Ring 1 adalah tingkatan pertama yang merupakan induk dari tingkatan bawahnya. Jumlah aggota mafia hukum pada ring pertama adalah 24 orang, 5 diantaranya adalah petinggi partai yang menolak JD dicalonkan oleh partainya tersebut.

Cerita lagi-lagi dimulai dengan sebuah ‘kejutan’. Thomas–yang baru selesai mengisi seminar politik di Hong Kong dan telah memenangkan pertarungan tinju dengan Lee, petarung terhebat di klub petarung Hong Kong—disergap tim khusus ketika sedang mencoba kapal baru pemberian Opanya. Di kapal itu sedang ada Thomas, Opa, Kadek, dan seorang wartawan muda bernama Maryam. Maryam ini kebetulan sedang mengejar Thomas untuk diwawancarai. Maryam berada di waktu yang salah dan tempat yang salah. Maryam ini Julia kedua menurut saya. Dekat dengan Thomas kemudian dicampakkan haha 😀

Ditemukan seratus kilogram barang terlarang di kapal, padahal tidak ada yang pernah memasukkannya ke kapal tersebut. Habislah Thomas, Opa, Kadek, dan Maryam dibawa ke gedung kepolisian Hong Kong untuk diinterogasi.  Thomas dijebak, namun ia dapat kabur. Tentu saja. Dia kan cerdik dan gesit. Tapi tidak lama kemudian, kliennya, JD ditangkap juga oleh kepolisian karena dugaan kasus korupsi padahal JD tidak perna melakukannya. JD dijebak. Ada mafia hukum yang tidak menyukai pencalonan JD menjadi presiden. JD dengan rekayasa dijebak dituduh melakukan korupsi agar tidak bisa mendatangi Konvensi Partai yang akan merumuskan siapa calon yang diangkat partai tersebut untuk emnjadi presiden. JD akan menegakkan hukum dengan bersih jika menjadi presiden. Mafia hukum pernah mengajaknya masuk dalam konspirasi namun JD menolak, akhirnya mafia hukum menyerang JD dan pendukungnya.

Lagi-lagi Thomas menjadi buronan. Ia menitipkan Opa dan Kadek di tempat yang aman, kemudian membawa Maryam mengurus mafia hukum yang berada di partai. Akhirnya dengan kecerdikan Thomas, lima mafia hukum yang menjadi petinggi partai ditangkap karena kasus korupsi dana PON yang memang benar-benar dilakukan mereka. Tentu saja Thomas dibantu dengan Maggie, Kris, dan teman-teman dari klub petarung dalam misi ini. Ohya, dalam novel ini ada juga wartawan perempuan yang memiliki acara talk show sendiri, bernama Najwa (oops Najwa yang itu kah?? Haha). Dalam penyelidikan siapa dalang dari mafia hukum ini, ternyata ditemukan sebuah nama. Shinpei, teman Papanya dan Om Liem yang dua puluh tahun lalu tidak menyukai bisnis Arisan-Berantai. Shinpei-lah yang menjadi dalang semua konspirasi besar yang melibatkan pejabat negara, anggota DPR, anggota kepolisian, dan pada ‘bedebah’ lain. Thomas menghadapi serigala lebih buas dengan kekuasaan lebih besar sekarang dibanding yang ia hadapi setahun yang lalu ketika menyelamatkan Bank Semesta. Shinpei dan mafia hukum di bawahnya ini mengingatkan saya sama voldemort dan Pelahap Maut hahaha 😀

Di akhir cerita, Thomas menyerahkan diri kepada Shinpei di Hong Kong untuk menyelamatkan Om Liem yang menjadi sandra mereka. Lalu, bagaimana nasib Thomas dan Om Liem? Silakan baca sendiri bukunya hahaha. Dijamin seru 😀

Membaca novel ini seperti nonton film action. Tembak-tembakan, alur cerita yang cepat dan padat, juga karakter-karakter tokoh-tokohnya. Novel ini seperti nyata. Konspirasi, rekayasa, pencitraan, semuanya seperti ada di sekeliling kita. Bahkan Bank Semesta, Ibu Menteri, Putra Mahkota, partai Lembayung, semuanya mengingatkan pada yang itu. Hahaha 😀 Tapi di halam depan sebelum cerita dimulai ada tulisan “Cerita ini adalah fiktif, Apabila ada kesamaan tokoh, empat, dan alur cerita, itu hanyalah kebetulan belaka”. Gak main-main, kalimat itu ditulis pada satu lembar khusus. Mungkin bagi orang yang tidak menyukai alur cerita yang cepat, cerita rekayasa-rekayasa, konspirasi, dsb tidak akan mudah menyukai novel ini.

Tantangan, kejutan, dibumbui humor, strategi, rekayasa, dan bonus ilmu penting seperti ilmu ekonomi, komunikasi, psikologi, keuangan, hukum, sampai ilmu tentang racun semuanya disediakan di novel ini. Semua ceritanya seperti dekat, ada di sekitar kita. Membuat kita berfikir, tertawa, penasaran. Inilah yang  membuat saya menyukai dwilogi novel ini.

Satu pesan pokok yang tersirat dari novel ini yang saya tangkap adalah, “Orang-orang yang mempunyai kuasa, orang-orang yang mempunyai harta, orang-orang yang mempunyai pengaruh, orang-orang yang cerdik dan orang-orang yang mempunyai banyak jaringan akan mudah melakukan rekayasa sosial. Nah, baik-buruknya rekayasa tersebut tergantung dari si pelakunya. Kalau kita jeli dan tenang, kita tidak bisa dikelabui.”