Gubuk Kecil Fia

 

HDR Gubuk Tua (FN)

 

Sepanjang jalan kecil di pinggiran desa, Fia mangayuh sepedanya tiap kali ia berangkat dan pulang sekolah. Selama tiga tahun ia melakukannya, hingga kini wajah dan tangannya menghitam terkena terik matahari. Sesampainya di rumah, ia menunggu ibunya pulang hingga sore bahkan terkadang hingga malam hari.

“Ibu… Sudah pulang? Mau aku pijat bu?”

“Sudahlah, kamu belajar saja sana!” Ibunya langsung merebahkan badan ke kasur setelah mengganti pakaiannya malam itu. Terlihat ia sangat lelah dan mengantuk.

“Bu, tadi siang Pak Ramlan menghubungi ibu ya?”

“Ya, wali kelasmu itu tadi pagi menelpon ibu, bicara tentang nilaimu.”, kata ibu.

“Kenapa kamu tidak berubah juga? Harus berapa kali ibu bilang kamu harus belajar dan belajar. Coba contoh Dewi, kelas satu SMA dia sudah bisa lolos OSN matematika tingkat nasional. Indah apalagi, lulus SMA dia diterima kuiah di luar negeri dengan jalur beasiswa. Kamu? Menjadi juara kelas saja tidak bisa. Kamu ini udah 17 tahun Fi, masa masih harus ibu ingatkan tiap hari???”, lanjutnya.

“Iya bu, Fia tahu. Fia sudah berusaha tiap hari.”

“Berarti usaha kamu masih kurang. Mahal-mahal ibu sekolahkan kamu di SMA favorit agar kamu bisa berprestasi. Buatlah ibu bangga Fi! Itu juga demi masa depanmu.”

“Iya bu, Fia ngerti.”

 

Udara pagi hari di rumah Fia sangat dingin. Pukul 4 pagi Fia dan ibunya sudah bangun dan bersiap-siap untuk beraktivitas.

“Ibu.. Lihat dompet Fia nggak???”

“Dompetmu hilang lagi?”

“Iya bu, harusnya di tas. Tapi nggak ada.”

“Kamu selalu begitu, sering kehilangan dompet. Mana ibu tahu, ibu dari pagi sampai malam kerja. Coba tanya teman-temanmu di sekolah. Kalau sampai nggak ketemu, sisa uangmu ibu ambil terus. Itu konsekuensi kamu nggak bisa nyimpen uang.”

“Yah bu…”, rengek Fia.

Namun rengekan FIa tidak digubris sama sekali oleh ibunya. Kemudian Fia berangkat sekolah dan ibunya pergi ke kantor untuk bekerja seperti hari-hari biasa. Hingga di kantor ibunya terdengar suara telepon.

“KRIIIIIING”

“Halo, Pak Ramlan? Ada masalah apa lagi pak dengan akademik anak saya?”

“Hmm, begini bu…”, dari suaranya pak Ramlan terdengar sangat khawatir.

“Saya kali ini tidak membahas masalah akademik putri ibu, tapi ada hal penting, saya mohon ibu tenang mendengar berita yang akan saya sampaikan”, lanjut Pak Ramlan.

“Ada apa sebenarnya Pak?”

“Putri Anda, Fia, Ia mengalami kecelakaan di depan sekolah ketika istirahat sekolah.”

“Fiaaaa!!!”, jerit ibu.

“Ada truk yang menabraknya ketika ia menyabrang jalan di depan sekolah. Supir truk mengantuk sehingga tidak menyadari ada orang yang menyabrang. Sekarang putri ibu sedang berada di rumah sakit dalam keadaan koma. Ibu bisa ke rumah sakit sekarang juga?”

“Iya Pak, saya segera ke sana”

 

Fia tergeletak di ruang gawat darurat, wajahnya hancur, ia tak sadarkan diri.

Kata Dokter, “Putri ibu mengalami luka berat akibat tabrakan truk, ia masih dalam keadaan koma, saya belum bisa memastikan sampai berapa lama lagi ia akan sadar, ia harus terus dirawat di rumah sakit sampai ia sadar. Saya harap ibu bersabar menerima cobaan ini, saya yakin putri ibu akan sehat kembali.”

“Terima kasih dok”

Ibu menangis sejadi-jadinya, ia tidak mau hidup sebatang kara, ditinggalkan putri semata wayangnya. Ayah Fia yang bernama Rudi meninggalkan ibu ketika Fia masih berumur dua tahun. Dia pergi dan tidak kembali lagi meninggalkan Fia hanya dengan ibunya saja. Hingga saat ini ayah Fia tidak pernah terdengar kabarnya. Fia dan ibunya menganggap ia sudah meninggal.

 

Satu minggu setelah kecelakaan itu, seorang nenek menghampiri ibu di rumah sakit, tepat di depan kamar Fia dirawat.

“Yang di dalam ini Fia ya?”

“Iya, maaf nenek siapa?”

“Kamu pasti ibunya Fia. Fia orang yang sangat baik. Ini saya bawa dompetnya”

“Loh kok dompetnya ada di nenek? Satu minggu yang lalu Fia mencarinya.”

“Iya, dompetnya ketinggalan di gubuk kecil nenek. Isinya aman kok.”, nenek itu menyodorkan sebuah dompet kecil kepada ibu.

“Loh, kok bisa?”

“Setiap pulang sekolah Fia dengan sepedanya selalu mampir ke gubuk kecil nenek di pinggiran desa.”

“Hah? Saya tidak mengerti, kenapa nenek bisa kenal dengan anak saya?”, ibu tampak sangat kebingungan dengan kehadiran nenek itu.

“Baiklah akan nenek ceritakan. Awal mula kami bertemu yaitu ketika nenek sedang dirawat di rumah sakit. Nenek mengalami kecelakaan cukup berat sehingga membutuhkan donor darah. Kebetulan ketika itu Fia ikut membawa nenek hingga sampai rumah sakit dan dia juga yang mendonorkan darahnya kepada saya. Tiap hari ia menjenguk nenek hingga akhirnya nenek sembuh.”

“Namun tidak sampai situ saja. Nenek sebatang kara di sini, anak laki-laki nenek satu-satunya nenek sudah sukses di kota dan tidak kembali lagi. Dia selalu mengirimi nenek uang tiap bulannya, tapi nenek tidak pernah memakainya. Nenek hanya ingin dia pulang. Fia tahu itu. Kemudian ia tiap hari sepulang sekolah menghampiri rumah nenek yang sangat kecil sehingga nenek sering sebut sebagai gubuk. Fia selalu membawa sedikit makanan tiap kali ia mampir. Dia pijat kaki dan tangan nenek. Dia selalu mengingatkan nenek untuk mengkonsumsi obat yang diberikan dokter pasca nenek dirawat di rumah sakit. Ia juga selalu menemani nenek ketika saya harus periksa ke dokter.”

“Ia gadis yang sangat baik. Ia sering bercerita pada nenek tentang ibunya. Fia sangat mengidolakan ibunya. Katanya, ibunya dulu adalah orang yang sangat berprestasi ketika sekolah. Ia ingin menjadi seperti ibunya. Tidak jarang Fia ke gubuk nenek, bercerita dengan saya sambil mengerjakan PR sekolahnya. Ia sangat berusaha keras untuk menjadi juara kelas.”

“Sudah satu minggu ia tidak menghampiri gubuk nenek lagi, padahal nenek ingin mengembalikan dompetnya yang tertinggal. Awalnya nenek tidak tahu alamat Fia karena ia tidak pernah mau memberi tahu lamatnya. Akhirnya nenek buka dompetnya dan menemukan alamat rumahnya di KTP Fia. Ketika nenek datangi rumahnya, ternyata rumahnya ditutup. Kata tetangganya Fia mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit ini. Kemudian nenek langsung ke sini.”, cerita nenek itu.

Ibu tampak terkejut mendengar cerita nenek itu. Pasalnya, Fia tidak pernah bercerita apapun tentang nenek itu. Ibu menyadari bahwa tekanannya kepada anaknya untuk dapat berprestasi itu tidak sebanding dengan apa yang ia dapatkan. Tanpa mendapatkan piagam penghargaan, tanpa mendapatkan beasiswa, tanpa mendapatkan gelar juara, tanpa terkenal, ternyata ia menjadi gadis yang lebih dari gadis berprestasi.

“Sepertinya Fia telah bercerita banyak tentang kehidupannya kepada nenek ya”, kata ibu sambil meneteskan air mata.

“Ya, dia anak yang baik. Jika nenek jadi kamu, nenek akan sangat bangga meskipun dia bukan juara kelas atau penerima beasiswa. Dia mempunyai hati malaikat dan sangat menyayangi ibunya.”

 

Suasana begitu hening hingga tiba-tiba ada seorang pria berlarian menyerobot masuk ke kamar Fia, namun dihalangi oleh suster dan security yang sedang berjaga. Ibu dan nenek pun terkejut dan berdiri menghampiri pria itu.

“Izinkan saya masuk, saya ingin ketemu Fia!!!”, teriak pria itu.

Pria itu mengenakan seragam kantoran dan di pakaiannya tertera sebuah nama ‘RUDI’

Seketika nenek meneteskan air mata, kemudian memeluk pria itu sambil berteriak, “Anakku!!!”